Rupiah Merosot di Awal Perdagangan Akibat Tekanan Dolar AS dan Sentimen FOMC

Rupiah Merosot di Awal Perdagangan Akibat Tekanan Dolar AS dan Sentimen FOMC

Jakarta – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu, 16 September 2026, kembali dibuka melemah sebesar 11 poin atau 0,06 persen ke level Rp17.705 per dolar AS. Berdasarkan data pasar, posisi ini melanjutkan tren negatif dari penutupan hari sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS, di tengah sentimen pasar global yang kian menekan mata uang Garuda terhadap penguatan indeks dolar AS yang berada di rentang 99,72–99,73.

Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprakirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS akibat sentimen kenaikan imbal hasil obligasi AS serta lonjakan harga minyak dunia. Konflik geopolitik di Timur Tengah turut melambungkan harga minyak mentah Brent ke kisaran USD107,82 per barel dan WTI di atas USD104 per barel, yang membuat investor mengambil sikap hati-hati di pasar.

Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh sikap wait and see pelaku pasar jelang pertemuan rutin Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed malam ini. Tim Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke level 5,03 persen akibat risiko harga minyak semakin memperkuat ekspektasi suku bunga global yang tinggi dalam waktu dekat. Dikutip dari RRI.co.id