Jakarta – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Khalilur Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menegaskan bahwa Muktamar NU 2026 merupakan momentum krusial untuk menentukan arah masa depan organisasi. Dalam keterangannya pada Rabu (15/04/2026), Gus Lilur menyebut agenda besar ini sebagai ajang “pemurnian organisasi”. Ia mendorong para peserta muktamar untuk memiliki keberanian moral dalam memilih pemimpin yang berbasis pada tradisi keilmuan dan akhlak, serta memastikan NU tetap menjadi institusi ulama yang independen dan tidak terjebak sebagai alat kepentingan kekuasaan maupun politik elektoral.
Gus Lilur menyoroti bahwa NU memiliki kekayaan figur intelektual dan ulama yang kompeten untuk memimpin organisasi ke depan. Beberapa nama tokoh besar yang disebut memiliki kapasitas tersebut di antaranya adalah Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Ia berharap Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang dapat menjadi titik balik untuk kembali fokus pada penguatan ekosistem intelektual, mulai dari pesantren hingga pengembangan pemikiran Islam yang relevan dengan tantangan zaman.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyatakan bahwa saat ini pihak organisasi tengah fokus melakukan konsolidasi internal dan verifikasi administrasi kepengurusan menjelang muktamar. Persiapan intensif dilakukan untuk memastikan peserta yang hadir memenuhi syarat administratif, sembari terus menjalin silaturahim dengan para ulama sepuh untuk memohon doa restu. Dengan target pelaksanaan antara Juli atau Agustus 2026, Muktamar NU diharapkan menjadi ujian sekaligus pembuktian bagi para kiai dan ulama dalam mengambil keputusan strategis demi kejayaan organisasi di masa depan. Dikutip dari Antaranews.com
