Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,01 persen atau 2 poin ke level Rp18.136 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah rupiah ditutup melemah 0,30 persen ke posisi Rp18.135 per dolar AS pada perdagangan Senin sebelumnya. Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian global menjelang pertemuan bulanan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini, tingginya harga minyak, serta kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing.
Menurut Tim Analis Phintraco Sekuritas, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan risiko bagi pasar keuangan domestik. Depresiasi yang berkelanjutan dapat mendorong inflasi impor dan menambah beban utang valuta asing perusahaan. Kondisi tersebut juga berpotensi membatasi ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut, BI dinilai berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur pada November mendatang. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat ke level 102,06, mencerminkan penguatan mata uang Negeri Paman Sam di tengah ketidakpastian pasar global.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut pergerakan rupiah saat ini masih merupakan volatilitas yang wajar. BI akan terus memantau perkembangan pasar dan melakukan intervensi di pasar spot serta pasar domestik dan luar negeri untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, BI mendorong penggunaan Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional. Destry menyampaikan bahwa kerja sama penggunaan LCT telah melibatkan sekitar enam hingga tujuh negara dengan total nilai transaksi mencapai 55 miliar dolar AS. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika ekonomi global. Dikutip dari rri.co.id
