JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali dibuka melemah pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Mengacu data Bloomberg, mata uang Garuda terdepresiasi 0,11 persen ke level Rp17.936 per dolar AS, melanjutkan tren koreksi dari hari sebelumnya yang ditutup di angka Rp17.916. Tekanan terhadap rupiah ini dipicu oleh perkasa nilai indeks dolar AS serta meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan mata uang Paman Sam disebabkan oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat (hawkish) dari The Fed. Sikap para pejabat The Fed yang memberi sinyal kenaikan suku bunga acuan pada Oktober mendatang membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan asetnya ke dolar AS. Kondisi eksternal inilah yang menjadi faktor utama pendorong pelemahan mata uang domestik saat ini.
Meski begitu, potensi pelemahan yang lebih dalam dinilai masih terganjal oleh turunnya harga minyak mentah dunia serta respon intervensi dari Bank Indonesia. Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak rentan di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Dikutip dari rri.co.id
