Lantunan doa dari berbagai lintas iman menggema di selasar Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta. Suasana sejuk, damai, dan khidmat menyelimuti ruangan. Para tamu yang hadir menundukkan kepala, mendoakan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Syaikhona Muhammad Kholil, yang baru saja dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.
Pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Khonghucu, dan Buddha bergantian memimpin doa di depan para tamu. Dalam doa-doa itu terselip rasa syukur atas perjuangan dan kontribusi dua tokoh besar tersebut bagi bangsa. Harapan pun didaraskan agar perjuangan mereka tak berhenti di masa lalu, tetapi terus diilhami oleh generasi penerus.
Salah satunya adalah Ponnie Wijaya, Wakil Ketua Umum Perempuan Khonghucu Indonesia (Perkhin). Ponnie tampak menunduk dengan kedua tangan menggenggam erat lembar doa. Suaranya bergetar ketika menyebut nama Gus Dur.
“Sebagai umat Khonghucu, kami bersyukur perjuangan Gus Dur membela kami dan masyarakat tertindas sehingga akhirnya dihargai Pemerintah Indonesia. Harapan kami, tindakan diskriminasi dan ketidakadilan akan lenyap dari bumi Indonesia tercinta,” ucapnya dalam acara Tasyakuran PKB atas Pemberian Gelar Pahlawan Nasional, di selasar Gedung Nusantara V, Rabu (12/11/2025).
Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Umum PKB Rusdi Kirana, Wakil Menteri Perindustrian dan Waketum PKB Faisol Riza, serta sejumlah elite PKB. Keluarga Syaikhona Muhammad Kholil diwakili KH Dimyati Muhammad. Adapun perwakilan keluarga Gus Dur berhalangan hadir karena agenda lain.
Setelah doa selesai, Ponnie berbagi kisah yang membuat matanya berkaca-kaca. Ia tidak pernah lupa perjuangan Gus Dur yang membantu kaum minoritas mendapatkan kembali haknya agar setara dengan agama lain.
Ia mengenang masa ketika masih bersekolah pada era Orde Baru, saat umat Khonghucu sulit mengekspresikan keyakinannya.
“Waktu SD, SMP, saya tidak diizinkan belajar agama Khonghucu. Umat Khonghucu dulu sangat termajinalkan. Untuk merayakan Imlek pun kami takut, enggak boleh terbuka,” kenangnya.
Situasi itu tak lepas dari Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang perayaan adat Tionghoa secara terbuka. Baru pada masa kepemimpinan Gus Dur, aturan tersebut dicabut melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, yang membuka jalan bagi umat Khonghucu dan etnis Tionghoa menjalankan tradisi mereka secara bebas.
“Kami menyebut Gus Dur sebagai Bapak Khonghucu, Bapak Pluralisme. Kami sangat bersyukur beliau memperjuangkan hak kami,” ujar Ponnie penuh haru.
Namun perjuangan Gus Dur tak hanya dirasakan umat Khonghucu. Ia dikenal sebagai tokoh lintas iman yang membangun jembatan antaragama. Salah satu momen penting adalah pertemuannya dengan perwakilan Konferensi Gereja Se-Asia (CCA) dan Dewan Gereja Se-Dunia (WCC) pada 29 Januari 1999 di kediamannya, Ciganjur, di mana ia menegaskan pentingnya posisi non-Muslim dalam kebinekaan Indonesia.
Perjuangan Panjang Dua Pahlawan
Ketua Fraksi PKB MPR, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, mengatakan Syaikhona Kholil dan Gus Dur adalah dua tokoh besar yang menanamkan nilai Islam moderat, cinta tanah air, dan kemanusiaan.
“Syaikhona Kholil dan Gus Dur sama-sama menanamkan nilai bahwa cinta Tanah Air adalah bagian dari iman, dan kemanusiaan adalah bagian dari keimanan. Keduanya adalah pahlawan untuk semua,” ujarnya.
Syaikhona Kholil dikenal sebagai guru besar para ulama dan penyebar Islam rahmatan lil alamin. Dari ajarannya lahirlah para pendiri Nahdlatul Ulama (NU), termasuk KH Hasyim Asy’ari. Sementara Gus Dur telah lama menjadi pahlawan di hati rakyat, jauh sebelum gelar resmi diberikan.
“Beliau pahlawan bagi orang-orang lintas agama, bagi mereka yang mencari kebenaran, dan bagi siapa pun yang memperjuangkan kemanusiaan,” kata Neng Eem.
Ia menjelaskan bahwa perjuangan memberikan gelar pahlawan kepada Gus Dur dilakukan bersama tokoh-tokoh lintas agama, namun sempat terganjal oleh TAP MPR Nomor II Tahun 2001. Setelah TAP tersebut dicabut, jalan pengakuan terbuka bagi Gus Dur sebagai pahlawan nasional pun terbuka lebar.
“Ini bukan hanya penghargaan untuk dua tokoh besar, melainkan juga kemenangan bagi nilai kemanusiaan dan kebangsaan kita,” tegasnya.
Wakil Ketua Umum PKB Faisol Riza menambahkan, masih ada cita-cita besar Gus Dur yang belum sepenuhnya terwujud, yakni penegakan hukum yang adil bagi seluruh rakyat.
“Kita berharap pemerintahan Presiden Prabowo dapat mewujudkan cita-cita luhur Gus Dur: menegakkan hukum seadil-adilnya,” ujarnya.
Faisol menutup dengan pesan bahwa tanpa perjuangan Gus Dur yang menjahit perbedaan suku, ras, dan agama, bangsa Indonesia mungkin tak akan seutuh sekarang.
“Beliau memastikan NKRI tetap utuh, eksis, dan berdaulat,” tutupnya.
Dikutip dari kompas.id
