Jaga Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Tingkatkan Intensitas Intervensi di Pasar

Jaga Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Tingkatkan Intensitas Intervensi di Pasar

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk meningkatkan intensitas intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 23 April 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah sebesar 0,73% ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global serta dampak konflik di Timur Tengah yang menekan mata uang regional. Meski Rupiah mengalami koreksi paling dalam dibandingkan mata uang Asia Tenggara lainnya, BI menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di pasar melalui langkah-langkah stabilisasi yang terukur dan konsisten.

Strategi stabilisasi yang dijalankan BI mencakup intervensi di pasar domestik melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta intervensi di pasar offshore (NDF). Selain itu, BI memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market dan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan aliran modal tetap terjaga dan volatilitas nilai tukar tidak mengganggu fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak pasar keuangan internasional.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memastikan bahwa ketahanan eksternal ekonomi Indonesia masih sangat kuat, didukung oleh posisi cadangan devisa yang mencapai USD148,2 miliar per akhir Maret 2026. Posisis cadangan devisa tersebut dinilai lebih dari cukup untuk mendukung kebijakan stabilisasi nilai tukar dan memenuhi kebutuhan pembiayaan luar negeri. BI akan terus bersinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mengantisipasi risiko rambatan global, sehingga nilai tukar Rupiah tetap bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dikutip dari RRI.co.id