Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan pertama Maret 2026. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa pergerakan indeks akan berada pada rentang support 8.031 dan resistance 8.437. Kondisi pasar modal pekan ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ketegangan di jalur vital Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi dunia, yang berpotensi mendorong penguatan dolar AS serta kenaikan harga komoditas global.
Meskipun risiko ketidakpastian meningkat, sektor energi dan pertambangan di bursa domestik diprediksi tetap menjadi penopang utama. Sebagai negara eksportir batu bara, Indonesia berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga jual rata-rata (ASP) komoditas energi. Saham-saham berbasis komoditas sering kali menjadi pilihan lindung nilai (proxy hedging) bagi investor di tengah ancaman inflasi global. Namun, Imam memperingatkan bahwa jika lonjakan harga minyak terlalu tajam, hal tersebut dapat menekan nilai tukar Rupiah dan memperlebar defisit neraca transaksi berjalan akibat kenaikan nilai impor migas.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga menjadi perhatian pelaku pasar. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memberikan peringatan terkait tekanan fiskal Indonesia, khususnya rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang berada di level 15 persen. Di saat yang sama, kebijakan tarif impor baru dari Amerika Serikat terhadap panel surya asal Indonesia turut menambah tekanan pada sektor energi terbarukan. Investor disarankan untuk mencermati rilis data ekonomi penting pekan ini, seperti inflasi Februari 2026, cadangan devisa, serta data ketenagakerjaan AS (Non-farm Payrolls) untuk menentukan langkah investasi ke depan. Dikutip dari Antaranews.com
