Perluas Akses Pendidikan, 100 Sekolah Rakyat Tambahan Siap Dibangun Pemerintah

Perluas Akses Pendidikan, 100 Sekolah Rakyat Tambahan Siap Dibangun Pemerintah

Jakarta – Pemerintah berkomitmen memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui program Sekolah Rakyat. Hingga saat ini, program tersebut telah sukses menjangkau sekitar 22 ribu siswa yang tersebar di 166 sekolah di berbagai daerah Indonesia. Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko, menyatakan bahwa pemerintah menargetkan pembangunan 100 sekolah baru tahun ini sebagai langkah strategis untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui instrumen pendidikan yang berkualitas.

Dalam pesan video bertajuk Indonesia in 60 Seconds yang diunggah pada Jumat (13/03/2026), Budiman menekankan bahwa perluasan program Sekolah Rakyat merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang agar anak-anak dari keluarga miskin memiliki peluang mobilitas sosial yang lebih luas dan tidak hanya menjadi penonton di era teknologi. Selain Sekolah Rakyat, pemerintah juga mengembangkan Sekolah Unggul Garuda yang fokus mencetak generator inovator di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) agar mampu bersaing secara global.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menilai program ini sebagai wujud nyata keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saat mengunjungi Sekolah Rakyat di Cibadak, Sukabumi, pada Rabu (11/03/2026), ia menegaskan bahwa negara harus hadir menjamin hak pendidikan setiap anak tanpa memandang kondisi ekonomi keluarga. “Sekolah Rakyat adalah jembatan emas bagi adik-adik. Kami mengajak para siswa memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dengan sungguh-sungguh demi masa depan yang lebih baik,” ujar Fajar.

Dengan integrasi program yang lebih terarah di bawah Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, diharapkan target pembangunan 100 sekolah baru dapat terealisasi tepat sasaran. Fokus utama pemerintah bukan hanya pada penambahan kuantitas bangunan, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Melalui sinergi ini, masa depan Indonesia diharapkan tidak lagi ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan, melainkan oleh kesempatan belajar yang terbuka lebar bagi seluruh anak bangsa untuk menjadi peneliti dan pencipta masa depan. Dikutip dari RRI.co.id