Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa implementasi kebijakan B40 sepanjang tahun 2025 telah memberikan dampak signifikan bagi kedaulatan energi dan lingkungan Indonesia. Program ini berhasil mengurangi volume impor solar sebesar 3,3 juta kilo liter, di mana angka impor solar turun dari 8,3 juta ton pada tahun 2024 menjadi sekitar 5 juta ton pada tahun 2025. Dari sisi lingkungan, penggunaan biodiesel ini berhasil menekan emisi gas rumah kaca hingga mencapai 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.
Pemanfaatan biodiesel domestik pada tahun 2025 tercatat mencapai 14,2 juta kilo liter atau melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada perbaikan kualitas udara, tetapi juga memberikan penghematan devisa negara yang sangat besar, yakni mencapai 130,21 triliun rupiah. Selain itu, program mandatori biodiesel tersebut meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil menjadi produk biodiesel dengan nilai ekonomi sekitar 20,43 triliun rupiah.
Pemerintah kini menargetkan Indonesia dapat menghentikan sepenuhnya impor solar pada tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh rencana implementasi biodiesel B50 serta mulai beroperasinya proyek pengembangan kilang atau Refinery Development Master Plan di Balikpapan yang akan meningkatkan kapasitas produksi solar domestik secara masif. Meski demikian, impor terbatas masih dimungkinkan untuk jenis solar kualitas tinggi seperti CN51 guna memenuhi kebutuhan spesifik industri alat berat nasional. Dikutip dari Antaranews.com
