GAPMMI: Kenaikan Harga Bahan Baku Plastik Bebani Industri Makanan dan Minuman

GAPMMI: Kenaikan Harga Bahan Baku Plastik Bebani Industri Makanan dan Minuman

Jakarta – Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) memperingatkan adanya potensi lonjakan harga produk makanan dan minuman (mamin) akibat meroketnya harga bahan baku plastik. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kemasan ini berkisar antara 30% hingga 100%, terutama pada produk kemasan sederhana seperti pembungkus daging beku dan bakso. Kenaikan biaya produksi ini dipicu oleh terbatasnya stok bahan baku dari pemasok lokal yang diperkirakan hanya akan bertahan hingga pertengahan tahun 2026.

Situasi ini memberikan tekanan besar bagi pelaku industri karena komponen kemasan berkontribusi sekitar 25% terhadap harga pokok produksi. Menurut Adhi, jika harga plastik naik hingga dua kali lipat, maka harga jual produk di tingkat konsumen sulit untuk tidak ikut terkerek naik. Saat ini, kenaikan harga bahkan sudah mulai terlihat pada komoditas kebutuhan dasar seperti beras dan minyak goreng, di mana kenaikan tersebut bukan disebabkan oleh harga komoditas utamanya, melainkan murni karena biaya kemasan yang membengkak.

Guna menjaga stabilitas margin dan ketersediaan produk di pasar, GAPMMI mendorong pemerintah untuk segera membuka opsi impor bahan baku plastik dari negara alternatif. Hal ini mendesak dilakukan mengingat produksi industri hulu plastik dalam negeri juga dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga 30%. Langkah impor dianggap sebagai solusi jangka pendek yang paling realistis agar industri mamin tetap bisa berproduksi dan harga di masyarakat tetap terjangkau di tengah keterbatasan pasokan komponen produksi plastik. Dikutip dari Antaranews.com