Sampit – Akademisi asal Kotawaringin Timur, Tasrifinoor, mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital untuk segera menghapus atau memblokir aplikasi game online yang rawan disusupi paham radikal. Langkah ini diusulkan setelah adanya temuan dua pelajar sekolah dasar di daerah setempat yang terindikasi terpapar radikalisme melalui platform digital. Tasrifinoor menekankan bahwa pengawasan ketat dari pemerintah pusat sangat diperlukan karena masyarakat dan pelajar cenderung hanya menjadi pengikut dari kebijakan atau konten yang tersedia di dunia maya.
Selain mendesak tindakan dari pemerintah pusat, akademisi yang juga praktisi hukum ini mendukung rencana pemerintah daerah untuk membatasi penggunaan gawai pada anak di bawah umur. Ia menyarankan agar pihak sekolah menerapkan aturan tegas berupa larangan bagi siswa membawa telepon seluler ke sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas. Hal ini dianggap penting untuk menekan arus penyebaran paham radikal yang kini mulai memanfaatkan fitur interaksi dalam game populer seperti Roblox sebagai sarana rekrutmen.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, memastikan bahwa kedua pelajar yang terindikasi terpapar kini sedang dalam pembinaan intensif oleh dinas terkait dan pihak kepolisian. Pemkab Kotim juga berencana menerbitkan Instruksi Bupati mengenai pembatasan gadget bagi anak usia sekolah sebagai langkah perlindungan jangka panjang. Untuk memperkuat pengawasan, pemerintah daerah akan melibatkan Densus 88 dalam kegiatan penyuluhan ke sekolah-sekolah serta instansi guna memberikan edukasi kepada orang tua dan masyarakat mengenai bahaya radikalisme digital. Dikutip dari Antaranews.com
