Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS) bersifat sangat spesifik dan tidak mengganggu status swasembada pangan nasional. Beras yang direncanakan masuk ke tanah air merupakan jenis beras khusus, seperti basmati, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar tertentu, terutama wisatawan mancanegara, investor asing, dan restoran internasional di Indonesia. Mentan menjelaskan bahwa langkah ini diambil karena preferensi rasa atau taste turis asing berbeda dengan beras lokal yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Mentan meminta publik untuk melihat kebijakan ini secara rasional dan proporsional. Volume impor 1.000 ton tersebut dinilai sangat kecil jika dibandingkan dengan stok beras nasional yang dikelola Perum Bulog yang saat ini mencapai hampir empat juta ton. Di sisi lain, pemerintah justru tengah menyiapkan ekspor beras premium sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji Indonesia. Dengan volume ekspor yang lebih besar daripada rencana impor khusus tersebut, neraca perdagangan beras nasional dipastikan tetap menunjukkan performa yang kuat dan mandiri.
Rencana impor ini juga merupakan bagian dari kesepakatan dagang tarif imbal balik (Agreement on Reciprocal Trade) dengan Amerika Serikat senilai 4,5 miliar dolar AS. Selain beras khusus, kesepakatan ini mencakup berbagai komoditas pertanian lainnya. Penegasan ini diharapkan dapat meluruskan persepsi publik agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai kebijakan pangan. Amran menekankan bahwa fokus utama kementerian tetap pada penguatan produksi domestik, yang dibuktikan dengan kesiapan ekspor beras kualitas tinggi ke pasar internasional dalam waktu dekat. Dikutip dari Antaranews.com
