Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai hampir seluruh risiko pertumbuhan ekonomi 2026 telah terserap pada 2025, sehingga prospek ekonomi tahun depan diperkirakan positif. Hal ini disampaikannya dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Airlangga, risiko yang muncul telah tercermin dalam tingkat suku bunga, harga, dan nilai rupiah, sehingga tahun 2026 lebih merupakan upside risk. Proyeksi pertumbuhan ekonomi didasarkan pada baseline APBN sebesar 5,4 persen. Indikator positif terlihat dari konsumsi masyarakat melalui Mandiri Spending Index yang mencapai 312 pada November 2025, di atas ambang threshold 300.
Investasi hingga September 2025 meningkat 13,7 persen secara tahunan menjadi Rp1.434 triliun, sementara belanja pemerintah mencapai Rp1.109 triliun hingga 24 November. Sementara itu, BI telah menurunkan BI-Rate sebesar 125 bps menjadi 4,75 persen, mendukung kredit usaha dan belanja. Inflasi Oktober tercatat 2,86 persen yoy, terkendali dalam target nasional.
Pemerintah juga menjalankan berbagai program untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk Gerakan Pasar Murah, penyaluran beras stabilisasi pangan, bantuan pangan bagi 18,3 juta penerima manfaat, pembiayaan KUR dan alsintan senilai Rp86 triliun, serta program Makan Bergizi Gratis untuk lebih dari 44 juta anak. Stimulus ekonomi lain termasuk diskon transportasi, BLT Kesera senilai Rp900 ribu untuk 35 juta keluarga, dan program magang bagi 100 ribu peserta.
Digitalisasi pemerintah daerah juga mendorong ekosistem digital, dengan 501 pemerintah daerah (91,8 persen) memiliki sistem digital termasuk QRIS dan e-banking sebesar Rp75,3 triliun. Transaksi non-tunai meningkat 20,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai Rp642 triliun hingga September 2025. Upaya digitalisasi mencakup perluasan kanal pembayaran, sinyal di wilayah 3T, serta penguatan koordinasi berbasis satu data antara pusat dan daerah.
Airlangga menegaskan langkah-langkah ini memperkuat fondasi ekonomi, meningkatkan inklusivitas, dan memastikan prospek ekonomi 2026 tetap positif. Dikutip dari Antaranews.com
