113 Tahun Muhammadiyah: Peran, Kiprah, dan Kontribusi bagi Bangsa

113 Tahun Muhammadiyah: Peran, Kiprah, dan Kontribusi bagi Bangsa

Surabaya – Muhammadiyah, organisasi Islam tertua di Indonesia, tahun ini merayakan 113 tahun kontribusi nyata bagi bangsa dan umat. Lahir pada 18 November 1912, Muhammadiyah telah menjadi tonggak gerakan sosial-keagamaan yang membumikan nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Ma’un, melalui pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.

Muhammadiyah dan NU: Kakak-Adik dalam Gerakan Islam

Jika NU (Nahdlatul Ulama) lahir pada 31 Januari 1926, Muhammadiyah sudah hadir 14 tahun lebih awal. Meski memiliki basis berbeda—Muhammadiyah modern dan NU berbasis pesantren—kedua organisasi ini saling melengkapi dalam dakwah. Muhammadiyah menekankan pendidikan modern dan pelayanan sosial, sedangkan NU lebih fokus pada penguatan keagamaan di tingkat desa.

“Islam memadukan keimanan (hablumminallah) dan kebaikan sesama (hablumminannas). Muhammadiyah dan NU berjalan seiring dalam memperkuat umat,” ujar aktivis IMM Universitas Muhammadiyah Jakarta, Asyraf Al Faruqi Tuhulele.

Pendidikan: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Selama 113 tahun, Muhammadiyah telah membangun ratusan lembaga pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga universitas. Program pendidikan inovatif, seperti EdutabMu, mempercepat akses teknologi di masa pandemi, sementara Sekolah Cerdas menekankan kesiapsiagaan terhadap bencana dan kekerasan di sekolah.

Kesehatan: Menjawab Kebutuhan Masyarakat

Muhammadiyah mendirikan PKU Yogyakarta pada 1923, embrio rumah sakit modern, dan kini memiliki ratusan rumah sakit serta klinik di seluruh Indonesia. Selain itu, lembaga kemanusiaan Muhammadiyah, Trisula Abad Kedua, yang terdiri dari Lazismu, MDMC, dan MPM, menghadirkan aksi nyata dalam bidang kesehatan, termasuk pengobatan gratis, pencegahan stunting melalui program Timbang, dan tanggap darurat bencana.

Lazismu: Gerakan Zakat dan SDGs

Lazismu, lembaga amil zakat Muhammadiyah, mengumpulkan hingga Rp239 miliar (2019-2020) dan menyalurkannya untuk pendidikan, ekonomi, kesehatan, dakwah, dan kemanusiaan. Lazismu juga aktif di kancah internasional, menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palestina, Rohingya, Australia, dan negara lain melalui program Muhammadiyah AID.

MDMC dan MPM: Kesiapsiagaan Bencana dan Pemberdayaan Masyarakat

MDMC fokus pada tanggap darurat dan rehabilitasi pascabencana, mulai dari banjir, gempa, hingga kebakaran. Sementara MPM memberdayakan masyarakat dengan pelatihan, advokasi, dan pengembangan wilayah marginal, termasuk inisiasi pemekaran wilayah di Papua dan program penanaman pohon di Lampung.

Kontribusi Global Muhammadiyah

Muhammadiyah tidak hanya aktif di Indonesia, tapi juga di tingkat internasional. Melalui Muhammadiyah AID, bantuan kemanusiaan disalurkan di wilayah konflik, seperti Rohingya, Palestina, Filipina, dan Thailand Selatan, membuktikan peran Muhammadiyah dalam membangun solidaritas global.

Selama 113 tahun, Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai organisasi Islam yang adaptif, inovatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Dari pendidikan, kesehatan, hingga kemanusiaan, kiprah Muhammadiyah menunjukkan bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat diimplementasikan untuk mencerdaskan bangsa dan memperkuat solidaritas global. Dikutip dari Antaranews.com