Jakarta, 17 November 2025 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah pada pembukaan perdagangan hari ini. Mengutip Bloomberg, pukul 09.34 WIB, rupiah berada di level Rp16.735 per USD, melemah 28 poin atau 0,17 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.707 per USD. Sementara menurut Yahoo Finance, rupiah berada di Rp16.727 per USD, turun 22 poin atau 0,13 persen dari Rp16.705 per USD.
Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.700 hingga Rp16.740 per USD,” ujar Ibrahim.
Fokus Investor pada Data Ekonomi AS
Pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen pasar yang konstruktif pasca kesepakatan mengakhiri penutupan pemerintah AS. Investor kini menantikan rilis data ekonomi AS yang tertunda, yang diyakini dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga Federal Reserve (Fed) pada Desember mendatang.
Penutupan pemerintah AS yang dimulai 1 Oktober telah resmi berakhir setelah Presiden Donald Trump menandatangani langkah pendanaan sementara. Paket tersebut memulihkan operasi federal hingga 30 Januari 2026, sekaligus memperpanjang pendanaan beberapa departemen hingga 30 September 2026.
Namun, prospek kebijakan dovish The Fed membuat dolar AS terbebani, menjaga imbal hasil Treasury tetap rendah, sekaligus menahan penurunan harga emas. Sentimen positif untuk emas tetap terlihat, didorong faktor makroekonomi dan tren teknis.
Prospek Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Di sisi domestik, pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto menekankan disiplin fiskal dan stabilitas makro sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi 2025. Dengan kebijakan fiskal yang hati-hati, pengendalian inflasi, dan ekspansi industri jangka panjang, Indonesia diproyeksikan mencatat pertumbuhan ekonomi 5,0–5,8 persen, salah satu yang terbaik di kawasan Asia.
“Disiplin fiskal menjadi kekuatan utama. Defisit anggaran dijaga sekitar 2,7 persen terhadap PDB, sementara rasio utang publik tetap di bawah 40 persen,” kata Ibrahim.
Dari sisi moneter, inflasi Indonesia tetap terkendali dengan inflasi inti diproyeksikan 2,5–3,2 persen, mencerminkan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang terukur. Stabilitas harga ini memberikan kepastian bagi rumah tangga dan pelaku industri. Dikutip dari Metrotvnews.com
