JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun, kendati harga minyak dunia sempat meroket hingga menembus level 107 dolar AS per barel pada akhir September 2026. Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menegaskan komitmen pemerintah untuk mempertahankan tarif BBM subsidi guna menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kendati demikian, Yuliot mengindikasikan bahwa harga BBM nonsubsidi tetap akan disesuaikan secara berkala dengan merujuk pada fluktuasi rata-rata harga minyak mentah pasar dunia selama kurun waktu satu bulan.
Meskipun lonjakan harga minyak dunia menekan asumsi makro, indikator keuangan negara diperkirakan tetap mampu menopang beban subsidi dengan proyeksi rata-rata harga patokan minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang terjaga di level aman. Pemerintah mencatat rata-rata ICP periode Januari hingga September berada di kisaran 90,6 dolar AS per barel, sehingga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan tetap terkendali hingga penutupan tahun anggaran. Skema ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk memprioritaskan stabilitas ekonomi domestik sembari terus memantau dinamika pasar energi global.
Guna merespons ketidakpastian geopolitik global secara jangka panjang, Kementerian ESDM bergerak cepat dengan mengakselerasi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Pemerintah telah memetakan sejumlah sumur migas potensial dengan kapasitas produksi sekitar 2.500 hingga 3.000 barel per hari yang siap digenjot pada 2027 dan 2028. Langkah strategis ini ditempuh sebagai fondasi utama untuk merealisasikan target lifting minyak 1 juta barel per hari pada periode 2029–2030 demi mewujudkan ketahanan dan swasembada energi nasional. Dikutip dari Antaranews.com
